Ide kecil yang dibesarkan dengan serius.
MDC memadukan kecepatan AI dengan sentuhan manusia, supaya ide nggak berhenti jadi konsep tapi jadi karya yang bisa dibuka, dilihat, didengar, dan diingat.
MDC didirikan oleh Mariabeth Hanaoka Marcellina Tuwaidan, S.Kom, ACA, yang sehari-hari dikenal sebagai Mabedth Nuka.
Sejak SMA, Mabedth sudah tertarik dengan dunia kreatif. Mulai dari ngedit video, bikin desain poster, sampai desain kaos. Ada satu mimpi yang belum kesampaian waktu itu: punya distro brand sendiri, dan baju-bajunya hasil desain sendiri.
Mabedth mengambil jurusan Sistem Informasi saat kuliah, dan di situ ketemu satu mata kuliah multimedia. Dari mata kuliah itu, ada tawaran sertifikasi Adobe Certified Associate. Saat itu yang boleh ikut sertifikasi dari kelas multimedia tersebut hanya 10 orang dengan nilai tertinggi, dan Mabedth masuk di dalamnya. Di titik itu baru sadar, ini bukan cuma hobi.
Setelah lulus dengan gelar S.Kom dan sertifikasi ACA, pengalaman kerja pertama langsung pegang desain grafis di divisi marketing sebuah rumah sakit, satu-satunya orang yang handle desain di sana. Lalu pindah ke rumah sakit umum pusat Manado. Awalnya masuk divisi Sistem Informasi Rumah Sakit sebagai programmer, namun ternyata gak cocok, jadi pindah ke divisi multimedia rumah sakit yang kerjaannya ngedit video dan bikin desain sosial media rumah sakit.
Di akhir tahun 2022, Mabedth pindah kerja lagi ke sebuah restoran di Manado sebagai konten kreator. Kerjaannya kurang lebih sama dengan kerjaan sebelumnya, ambil footage video, ngedit video konten, desain kebutuhan restoran, sampai handle sosial media. Di situlah MDC mulai dibangun. Awal 2023, sambil tetap kerja, MDC didirikan karena sudah sering dimintain bantuan buat bikin logo, desain kaos, dan desain-desain lainnya. Jadi, bukan mulai dari nol. Pengalamannya sudah ada, keberaniannya juga.
Klien tumbuh pelan, dari satu karya ke karya berikutnya. Prinsipnya masih sama sampai sekarang: kerjakan, rapikan, cek lagi sebelum dikirim.
Lalu sampai di titik yang mengubah cara MDC kerja. Mabedth ngerangkul teknologi, khususnya agent AI, bukan buat menggantikan manusia, tapi buat mempercepat dan memperluas jangkauan MDC. Di situ MDC tumbuh menjadi sebuah tim: Mabedth Nuka yang pegang arah kreatif, ditemani Vega, Chloe, dan Bianca yang mengurus pertumbuhan, produksi, dan kualitas. Satu studio kecil, kerja bareng manusia dan agent AI, dengan standar yang nggak diturunin.
Soal nama: Mabedth itu nama panggilan, singkatan dari Mariabeth. Jadi, MDC = Mabedth Digital Creation, karya digital Mabedth. Kadang orang kira MDC itu Manado City. Bukan ya bestie, tapi lumayan sering bikin ketawa.
MDC adalah AI-powered creative studio yang membantu mengubah ide menjadi karya dan pengalaman digital yang personal, menarik, dan berkualitas, dengan teknologi AI dan sentuhan manusia.
Menjadi AI-powered creative studio yang mampu membawa ide dan cerita klien menjadi pengalaman digital yang berkesan, berkualitas, dan relevan bagi audiens di Indonesia maupun dunia.
AI kami pakai buat mempercepat eksplorasi dan produksi. Tapi arah kreatif, rasa, dan quality control tetap dipegang oleh manusia. Artinya di praktiknya:



